Komik, 'manga', 'cartoon'.... Kata-kata tersebut tidaklah asing bagi telinga kita bukan? Tidak dipungkiri lagi, hal tersebut memang telah booming di Indonesia kita tercinta. Bahkan sekarang sudah tidak terhitung lagi komunitas dan perkumpulan pecinta komik dan manga. Bahkan lagi, anak-anak bangsa pun sudah mampu membuat komik dan 'manga' yang diterbitkan dan tersebar di berbagai toko-toko buku.Suatu hari saya membaca artikel yang menurut saya sangat menarik di sebuah majalah, mengenai munculnya penerbit KOLONI, yang masih merupakan 'anak' dari penerbit yang sudah lawas, m&c. Bersamaan dengan itulah komik-komik asli buatan anak Indonesia mulai bermunculan di toko-toko buku. Seingat saya sudah sekitar 1-2 tahun sejak saat itu.
Kehadiran penerbit ini menuai secercah harapan bagi para komikus (dan komikus wannabe seperti saya :p) yang sebelumnya tidak memiliki 'wadah' bagi mereka untuk menuangkan kreatifitas mereka. Judul demi judul bermunculan, seiring dengan naiknya nama-nama komikus-komikus yang mengantarkannya, sebut saja Galang Tirtakusuma, Is Yuniarto, dan kawan-kawan. Komik Indonesia pun mengalami 'Temporary Golden Age' pada setahun awal kemunculan penerbit KOLONI.
Namun apakah lantas 'Golden Age' ini terus berlanjut sampai sekarang? Sayangnya tidak!
Hal yang terjadi sekarang adalah menurunnya nilai komik Indonesia itu sendiri. Saya lihat banyak komikus yang justru menghasilkan karya yang setengah-setengah, setengah bagus, setengahnya lagi belum bagus.
Mengapa demikian? Ternyata kemunculan karya-karya yang luar biasa di awal masa kejayaan komik Indonesia justru memancing komikus-komikus yang masih 'terlalu hijau' untuk turut menyumbang karya yang belum matang.
Memang, kalau dibandingkan dengan Jepang (yang notabene merupakan negeri asal manga yang juga cikal bakal komik-komik Indonesia sekarang) jaman dulu, saat manga masih berada pada periode awal kejayaannya, kualitas komik Indonesia sekarang memang sedikit unggul. Namun jika dibandingkan dengan manga zaman sekarang? Maaf saja, tapi mengejar saja masih sulit!
Memang apa sih yang membuat komikus-komikus Indonesia lebih nggak pro daripada mangaka-mangaka Jepang? Coba kita cek beberapa poin dibawah:
- Storyline
Entah mungkin pembacanya yang terlalu hebat, atau sang komikus yang terlalu simpel, kebanyakan komik Indonesia sekarang memiliki cerita yang sangat 'umum' alias mudah ditebak. Saya tidak menyalahkan komikusnya ataupun pembaca, karena untuk hal ini disebabkan karena komik-komik dan manga-manga yang telah beredar, dan juga game-game (khususnya RPG) banyak yang memiliki tema yang sama, dan umumnya storyline yang sudah berpola, sehingga para pembaca sudah 'bosan' melihat pola cerita yang umumnya itu-itu saja, apalagi pada komik ber-genre fantasy action.
Saran saya kepada komikus Indonesia, buatlah cerita yang unik dengan perkembangan cerita yang tidak begitu umum.
- Artwork
Menurut saya sendiri artworknya komikus Indonesia cukup bagus, namun karena pembaca awam sudah terbiasa membaca manga yang memang jauh unggul dari segi artwork, otomatis komik Indonesia terlihat seperti corat coret anak kecil.
Dalam segi artwork itu sendiri, yang kurang dari komikus Indonesia adalah kemampuan untuk mengolah gambar ke dalam panel komik. Mengapa? Karena sejauh pengamatan saya sebagian besar komikus Indonesia yang sekarang adalah orang-orang yang terbiasa membuat 1 gambar di 1 lembar kertas, atau dalam bahasa lainnya, ilustrator. Memang jika dalam hal membuat suatu gambar ilustrasi, komikus Indonesia tidak kalah dari mangaka Jepang (terlihat dari gambar cover komik-komik Indonesia yang membuat saya terpana), namun sayangnya
baru sedikit komikus Indonesia yang bisa menyusun panel dengan 'indah' dan mengisi panel tersebut dengan gambar yang 'pas'. Karena itulah komik Indonesia terlihat kurang begitu 'cantik' di mata para pembaca.
- Lama terbit?
Satu lagi, sistem penerbitan di Indonesia beda dengan Jepang. Di Jepang manga diterbitkan dalam format serialisasi 1 chapter per minggu (umumnya 17-18 halaman per chapter, atau 30++ untuk serial bulanan). Di Indonesia, sekali terbit langsung 1 volume (biasa disebut tankoubon dalam istilah per-manga-an). Kalau dihitung-hitung sih, ya memang lebih lama terbitnya, jadi kita lah yang harus bersabar! :D
Kurang lebih itulah poin-poin yang menjadi problema komik Indonesia sekarang ini. Walau kelihatannya komik Indonesia masih berada di "masa kelam", bukan berarti komik Indonesia tidak digemari, malah ada juga orang yang "Hidup komik lokal, boikot komik luar!" seperti itu ^^; (engga, itu bohong).
Komik Indonesia juga banyak penggemarnya kok (termasuk saya), dan para penggemar komik lokal akan terus mendukung dan menunggu kebangkitan industri perkomikan Indonesia!
Maju terus komik Indonesia~! >:D
No comments:
Post a Comment